Ditulis pada 8 May 2017 , oleh admin , pada kategori Berita, Kegiatan

April identik dengan perayaan hari Kartini yang menjadi tonggak semangat emansipasi wanita. Pada umumnya, kegiatan yang menandai peristiwa ini adalah lomba-lomba untuk perempuan. Pusat MPK tetap dengan semangat akademisnya, mengadakan diskusi dengan mengusung tema “Membaca Perempuan”. ”Hari Kartini tidak hanya sebatas sanggul, kain dan kebaya. Tetapi hendaknya semangat yang patut diteladani dari Kartini-lah yang perlu diangkat setiap bulannya. Modernitas dan persepsi kultural yang selalu bergerak dinamis, menuntut kita semua untuk selalu berpijak pada akar yang kuat.” Destriana, selaku panitia memberi alasan.

Dengan menggandeng Direktur Ifada Initiative, Irfan Afifi, FGD Guru Bangsa mengadakan bedah buku yang berjudul “Dadi Wong Wadon: Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern” (2015, selanjurnya disebut ‘Dadi Wong Wadon”) yang diterbitkan oleh Penerbit Ifada. Irfan Afifi, melalui buku itu, melihat bahwa kecenderungan semangat perempuan masa kini berkiblat pada feminisme barat, yang sebenarnya tidak sepenuhnya sejalan dengan semangat emansipasi Jawa. Feminisme Barat melihat kesetaraan harus ditegakkan dengan alasan adanya dominasi patrialkal, diskriminasi di ranah sosial, serta keterkungkungan ranah domestik.

Irfan Afifi menjelaskan bahwa sejatinya perempuan Jawa tidak terbebani dengan “tugas utama” dalam wilayah domestik, dan pada kenyataannya Risa Permanadeli (dalam buku “Dadi Wong Wadon”) menggambarkan dengan jelas bahwa kesadaran kultural masyarakat Jawa membentuk persepsi perempuan Jawa untuk tetap berkiprah di ranah eksternal sebagai aktualisasi perpanjangan kehidupan domestik. Semangat emansipasi sudah dilihat dari pola yang demikian kuat membentuk persepsi bahwa wanita tidak hanya hidup di ranah domestik, tetapi keluar dengan tanpa meninggalkannya. Perempuan Jawa terlihat memiliki kekuatan yang sedemikian rupa sehingga mampu untuk membentuk sistem sosial dengan berpangkal pada kemampuan mengendalikan ranah domestik. Hal ini bukan berarti perempuan Jawa menolak konsep modernitas yang digulirkan Barat. Sebagai bagian dari “Dunia Ketiga”, perempuan –dan masyarakat- Jawa menerima praktik modernitas dengan tidak mentah-mentah. Tetap ada proses klasifikasi dan penjangkaran makna yang sudah ada sebelumnya, sehingga terjadi bentukan symbol yang baru, tapi tetap khas Jawa.

Pemateri ke dua, Fitrahayunitisna, M.Pd, menguatkan pendapat Irfan Afifi tersebut. Menurutnya, konsep ideal perempuan Jawa dalam buku tersebut perlu dilihat dari kacamata feminism Barat, agar autentisitas emansipasi Jawa tampak lebih jelas. Selain yang sudah dijelaskan oleh Irfan, pengampu Matakuliah Bahasa Indonesia UB ini menambahkan bahwa ruang keluarga yang terbentuk berdasarkan pernikahan dilihat berbeda dari feminism Barat. “Kriteria perempuan ideal perempuan Jawa di era modern yang ditemukan oleh Permanadeli (2015) adalah perempuan berpenghasilan, mengikuti jaman, sekolah tinggi, dan keluarganya bahagia. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam rumah tangga Jawa modern,  perempuan memiliki akses ke ruang publik sebagaimana laki-laki. Rumah tangga membuat perempuan bisa membuka lebar-lebar sayapnya tetapi tetap mempertahankan keluarganya sebagai titik pancang utama. Hal ini karena rumah tangga, sekali lagi, merupakan poros ruang sosial Jawa.” Paparnya.