Ditulis pada 24 March 2017 , oleh admin , pada kategori Berita, Kegiatan

Tokoh yang dibahas dalam FGD Guru Bangsa,  yang rutin diadakan oleh Pusat MPK adalah Douwes Dekker. Douwes Dekker merupakan salah satu tokoh nasional yang bukan merupakan warga pribumi, namun turut menyebarkan semangat nasionalisme di Indonesia pada masa penjajahan. Melalui media massa, organisasi dan pendidikan, Douwes Dekker mengajarkan pentingnya humanisme dan nasionalisme.

“Walau pun Douwes Dekker bukan warga pribumi, namun perannya dalam pembangunan kesadaran berbangsa, semangat kesatuan dan kesetaraan bukan hal yang sepele. Douwes Dekker juga menjadi salah satu inspirator Tjokroaminoto dalam merekrut anggota Serikat Islam (SI), serta salah satu penyulut semangat nasionalisme dalam kelompok pelajar Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda,” Destriana Saraswati, menjelaskan tentang alasan pemilihan tokoh edisi ke 2 diskusi rutin ini.

Mifdal Zusron Alfaqi, M.Sc., sebagai pembicara pertama menyoroti semangat nasionalisme dalam pergerakan politik Douwes Dekker. Douwes Dekker menularkan semangat kesetaraan (pengakuan setara bagi warga pribumi) melalui tulisan-tulisannya di media massa dan karya monumentalnya yakni Max Havelaar. Selain itu, pemikirannya juga bida dilihat dalam pergerakannya membentuk organisasi-organisasi bernafaskan kemanusiaan dan kecintaan pada tanah air.

“Pena tajamnya dalam menulis kritikan terhadap penjajahan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda sangat keras, tujuannya untuk propaganda penyebaran virus pemikiran anti kolonialisme dan mewujudkan kemerdekaan Hindia. Salah satu contoh adalah kritikan DD atas kebijakan politik etis yang telah memecah belah penduduk pribumi, indo, dan priyayi. Selain dalam dunia jurnalistik DD juga melakukan perjuangan dengan mendirikan Indische Partij pada tahun 1912 dan Schoolvereeniging Het Ksatrian instituut Tahun 1923,” kata Mifdal Zusron Alfaqi, M.Sc.,  saat menyampaikan materi di Ruag Sidang, lantai 8, Gedung Rektorat.

“Tujuan utama Indische Partij menerapkan sistem kerjasama tanpa melihat perbedaan tersebut karena banyak organisasi di Hindia Belanda yang masih mengedepankan identitas kelompok. Indische Partij juga menentang sikap kebencian antar agama dan sektarianisme karena inti dari perjuangannya adalah konsep persatuan atau nasionalisme yang kuat.” Lanjutnya.

Sedangkan, pemateri ke 2, Abd. Mu’id Aris Sofa, M.Sc.  melihat dari sisi pergerakan pendidikan Douwes Dekker. Douwes Dekker juga diketahui menjadi salah satu tokoh pendidikan yang mendirikan sekolah umum bagi seluruh manusia Indonesia, tidak membedakan latar belakang, apakah pribumi ataupun non-pribumi.

“Dunia politik tidak dijadikannya sebagai alat untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan, tetapi politik dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengupayakan persamaan ras, golongan, warna kulit, strata sosial dan hak asasi manusia. Karena DD sadar politik sebagai salah satu jalan untuk perjuangan dan menentang kezaliman atas nama kekuasaan bangsa pendatang. Dalam pendidikan dia tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi mampu mengajarkan nilai atau karakter yang mulia (transfer of value).” Abd. Mu’id Aris Sofa, M.Sc. menutup FGD yang diadakan tanggal 23 Maret 2017 itu.